
Banyak pendapat yang menyebutkan bahwa entrepreneur adalah orang yang bisa melihat dan memanfaatkan peluang. Pendapat ini tidak salah dan inilah salah satu hal yang membedakan entrepreneur dengan orang kebanyakan, dan yang membedakan entrepreneur yang sukses dan yang tidak. Hal ini menjadi hal yang menarik bagi para ilmuwan di bidang entrepreneurship. Bagaimana seseorang menganggap apakah ada peluang atau tidak di sekitarnya, dicoba dipahami dan dijelaskan lebih jauh dengan berbagai teori entrepreneurship. Teori-teori itu dapat pula diterapkan pada karyawan di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan. Signal detection theory (Swets, 1992), adalah termasuk salah satu diantaranya.
Signal detection theory menyebutkan bahwa individu berusaha menentukan apakah stimulus atas satu peluang ada atau tidak. Sebelum sampai pada kesimpulan, tentulah individu ini melihat tanda-tanda atau stimulus, apakah peluang itu memang ada atau tidak. Dalam teori ini, ada empat anggapan individu atas stimulus peluang, yang akan dijelaskan dalam bagian berikut.
Pertama, yang disebut “Hit”, atau identifikasi yang benar atas stimulus peluang. Dalam hal ini, stimulus atau tanda-tanda itu secara objektif memang ada dan si individu menyimpulkan bahwa ia memang ada. Yang kedua, disebut “Miss”. Stimulus itu pada dasarnya tidak ada, tapi si individu secara salah menyimpulkan bahwa stimulus itu ada. Yang ketiga disebut dengan “False Alarm”; stimulus itu pada dasarnya tidak ada, tapi si individu malah menyimpulkan sebaliknya, stimulus itu ada. Keempat, yang disebut “Correct Rejection”; stimulus itu tidak ada, dan si individu secara benar menyimpulkan bahwa stimulus itu memang tidak ada.
Seperti yang anda duga, entrepreneur yang sukses akan cenderung punya persepsi “hit” dan “correct rejection”. Pengalaman-pengalaman keputusannya akan relatif lebih banyak dihiasi oleh benar ketika menganggap ada peluang, dan tidak salah ketika melihat peluang itu memang tidak ada. Contoh-contohnya bisa seperti kejadian berikut. Orang tertentu, sukses kala memilih bisnis tertentu, yang dalam perkembangannya ternyata memang meningkat pasarnya. Atau, kalau memilih mitra baru, ternyata kemitraannya memang saling bersinergi dan bisnis pun berkembang. Sebaliknya, si entrepreneur sukses juga secara tepat menunda penjualan barangnya di harga tertentu karena ia menganggap menjual beberapa bulan ke depan lebih menguntungkan. Begitupula misalnya, ketika ia menolak tawaran dana untuk investasi peralatan, tambahan investasi itu hanya akan membenani biaya bulanan karena cicilannya tidak sebanding dengan tambahan pendapatan yang dihasilkan.
Ada beberapa faktor ikutan yang juga terkait dengan bagaimana sinyal peluang ini dipersepsikan oleh si entrepreneur. Salah satunya adalah pengalaman. Kalau orangnya sudah berpengalaman, maka tentu saja kriteria subjektifnya dalam memutuskan menjadi berbeda. Mereka yang sudah berpengalaman banyak, ketika ada sedikit sinyal saja, sudah cukup bagi dia untuk memutuskan. Dengan demikian, kriteria yang ditetapkannya sebelum bertindak tidak harus terlalu tinggi atau banyak. Sementara itu, orang yang kurang berpengalaman biasanya cenderung menetapkan kriteria yang rada banyak dan tinggi, untuk satu sinyal yang dilihatnya.
Kini pertanyaannya adalah, mungkinkah para manajer berperilaku seperti para entrepreneur itu? Tentu saja mungkin. Malah, ini menjadi satu penjelasan, mengapa para manajer dapat berperilaku seperti entrepreneur. Para manajer pun sehari-hari terlibat dengan urusan peluang. Manajer pemasaran berurusan dengan penciptaan dan peluncuran produk baru. Manajer SDM berurusan dengan peluang ketika bernegosiasi dengan konsultan provider pelatihan.
Organisasi, apalagi organisasi bisnis memang sangat tergantung pada peluang. Bahkan, tidak berlebihan bila disebutkan, dengan peluanglah organisasi bisa bertahan hidup dan kemudian berkembang. Memahami proses pemanfaatan peluang oleh entrepreneur seperti sinyal-sinyal peluang ini akan membantu manajer untuk meningkatkan kapasitas entrepreneurial nya.
No comments:
Post a Comment