Sunday, February 20, 2011

Berpikir terbuka: Kunci sukses inovasi


Berpikiran terbuka, menerima berbagai pandangan baru untuk kemajuan organisasi adalah kunci sukses perusahaan yang inovatif. Perusahaan-perusahaan yang maju dan berkembang dengan inovasi sadar benar manfaat keterbukaan dengan mempersilahkan para stakeholdernya seperti para mitra seperti pemasok dan pelanggan terlibat dalam pengembangan produk dan layanan baru. Sila intip bagaimana Procter & Gambler (P&G), membesar dengan strategi yang mereka sebut “connect & develop” di sini. Dengan inisiatif ini, P&G bisa langgeng dengan strateginya “hidup” melalui 50% produk baru yang gagasannya bersumber dari luar organisasi. Konon, ini merupakan satu praktek terbaik pelaksanaan konsep “open innovation”.

Organisasi di industri berbeda, mungkin tidak dapat meniru bulat-bulat apa yang dikerjakan oleh P&G.- Tapi prinsip keterbukaan atas gagasan, jelas harus ditiru. Keterbukaan ini bahkan untuk sesuatu yang sudah kita anggap sukses dan mapan berjalan di organisasi kita. Sayangnya, seringkali organisasi menampik pentingnya untuk men-challenge sesuatu yang sudah mapan. Pelaku incumbent sering merasa terganggu dengan adanya gagasan-gagasan baru ini. Dalam kasus terburuknya, mereka rela organisasi merugi dari tidak diberlakukannya gagasan baru yang potensial, ketimbang mereka “rugi” kalau cara-cara lama diubah. Karyawan dengan semangat entrepreneurial tentu tidak seperti ini cara pandangnya. Bagi mereka, hanya berpatok kepada cara dan ide yang mapan, sama artinya dengan melepas peluang dalam berbagai bentuknya seperti kemungkinan hadirnya satu trend baru.

Walaupun terbuka, bukan berarti kita “all out” menerima apa saja sajian gagasan baru. Kadang orang salah menginterpretasikan pentingnya “banyak” gagasan baru untuk inovasi. Mereka berhitung sederhana; kalau gagasan baru yang baik ada di 100 gagasan, maka kita perlu ribuan gagasan. Cara berpikir seperti ini hanya akan membuat lelah organisasi menilik dan menyarik gagasan baru yang aplikabel. Terbukalah terhadap gagasan-gagasan yang relevan untuk permasalahan kita. Permasalahan yang kita prioritaskan. Pada gagasan yang terkait seperti inilah konsentrasi gagasan baru kita kerahkan.

Di sisi lain, “terbuka” juga bukan berarti memberitahukan semua masalah kita ke berbagai pihak. Soal keamanan, aturan-aturan internal, masalah legal perusahaan dan masalah-masalah pelik yang cuma perlu diketahui secara internal, tidak perlu dibuka ke khalayak. Terlalu besar risikonya kalau ini juga melibatkan pihak luar.
Risiko? Bukankah gagasan baru, baik dari luar maupun dari dalam juga mengandung risiko? Benar. Keterbukaan atas gagasan baru, selalu menyiratkan elemen ketidakpastian, sering bersifat acak, dan tidak jelas masa depannya. Justru di sinilah permainan inovasi sesungguhnya; menyaring dan menerima gagasan, mengujinya dan kemudian mengambil risiko dalam penerapannya demi manfaat yang lebih besar untuk organisasi.