Saturday, November 27, 2010

Peluang entrepreneurial (entrepreneurial opportunities)


Peluang adalah salah satu bahasan penting dalam ilmu entrepreneurship. Bagaimana individu mengeksplor dan mengeksploitasi peluang menjadi kunci keberhasilan seorang entrepreneur, termasuk intrapreneur, individu yang berperilaku entrepreneurial di organisasi yang sudah mapan. Tidak heran rumusan entrepreneurship adalah studi tentang sumber peluang, serta proses penemuan, evaluasi dan eksploitasi dari peluang tersebut (Shane & Venkataraman,2000) termasuk yang sering dirujuk peneliti. Peluang yang dimaksud di sini – disebut dengan entrepreneurial opportunities (EO)-, agak berbeda dengan peluang dalam pemahaman kalangan awam. Seperti apa sesungguhnya EO? Dimana letak bedanya dengan peluang yang biasa kita kenal?
Masih menurut Shane & Venkataraman, Entrepreneurial opportunities (EO) adalah situasi, dimana barang, layanan, bahan baku, pasar dan cara mengatur yang baru dapat diperkenalkan melalui bentuk cara-cara yang baru, tujuan atau kombinasi cara dan tujuan yang baru pula. Hal-hal yang baru, atau yang sering kita kenal dengan istilah inovatif, sangat kental sekali dalam rumusan ini. Bedanya dengan peluang yang “biasa”, sang entrepreneur tidak harus memiliki terlebih dahulu sumberdaya yang diperlukan, atau hasil akhir yang diharapkan dari peluang tadi. Kedua hal itu (sumberdaya dan hasil akhir), bisa diciptakan oleh sang si individu sembari mengeksplor dan mengeksploitasi peluang tadi. Saat peluang tadi digagas, ditawarkan dan diterapkan, si entrepreneur sekaligus mengupayakan sumberdaya yang diperlukan. Disinilah letak nilai tambah (value added) yang tinggi dari satu inisiatif yang dikerjakan oleh si entrepreneur. Karena asumsi sumberdaya yang terbatas, seakan-akan hal ini tidak dilihat sebagai peluang bagi orang banyak.
Di sisi lain, ini juga yang menjelaskan bahwa pada peluang yang “biasa”, sumber daya dan tujuannya seringkali sudah ada. Bisa kita katakan “semua orang juga tahu”. Dengan demikian maka nilai tambahnyapun tidak seberapa. Kalau ini yang dilakukan, dengan segera orang mengatakan, “dimana hebatnya?” “dimana uniknya?”, atau “itu mah biasa”. Pendeknya, peluang peluang yang biasa, kalaupun menghasilkan “keuntungan”, maka keuntungannya tidak begitu besar, dibandingkan kalau EO yang berhasil dieksploitasi.
Manajer atau karyawan di organisasi yang sudah mapanpun bisa berpikir dan bertindak dengan berpatokan dengan peluang entrepreneurial ini. Atau, setidak-tidaknya turut mendukung bila koleganya (apakah itu dari sisi atasan, atau yang datang dari level bawah) menggagas satu inisiatif yang mengeplor dan mengeksploitasi EO. Dengan keyakinan dan keteguhannya, walaupun disaat peluang itu diidentifikasi sumberdayanya belum memadai, mereka bisa terus mengupayakannya. Misalnya dengan cara mencari dan meyakinkan sponsor atau backer. Network yang ada dirangkul. Pokoknya, yang ada dimaksimalkan, yang belum ada diciptakan. Bukan upaya sederhana, memang. Kemungkinan gagalpun tidak kecil. Tapi berharap untuk memperoleh benefit yang tinggi dari upaya seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan.

Friday, November 26, 2010

Sinyal peluang bagi entrepreneur


Banyak pendapat yang menyebutkan bahwa entrepreneur adalah orang yang bisa melihat dan memanfaatkan peluang. Pendapat ini tidak salah dan inilah salah satu hal yang membedakan entrepreneur dengan orang kebanyakan, dan yang membedakan entrepreneur yang sukses dan yang tidak. Hal ini menjadi hal yang menarik bagi para ilmuwan di bidang entrepreneurship. Bagaimana seseorang menganggap apakah ada peluang atau tidak di sekitarnya, dicoba dipahami dan dijelaskan lebih jauh dengan berbagai teori entrepreneurship. Teori-teori itu dapat pula diterapkan pada karyawan di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan. Signal detection theory (Swets, 1992), adalah termasuk salah satu diantaranya.
Signal detection theory menyebutkan bahwa individu berusaha menentukan apakah stimulus atas satu peluang ada atau tidak. Sebelum sampai pada kesimpulan, tentulah individu ini melihat tanda-tanda atau stimulus, apakah peluang itu memang ada atau tidak. Dalam teori ini, ada empat anggapan individu atas stimulus peluang, yang akan dijelaskan dalam bagian berikut.
Pertama, yang disebut “Hit”, atau identifikasi yang benar atas stimulus peluang. Dalam hal ini, stimulus atau tanda-tanda itu secara objektif memang ada dan si individu menyimpulkan bahwa ia memang ada. Yang kedua, disebut “Miss”. Stimulus itu pada dasarnya tidak ada, tapi si individu secara salah menyimpulkan bahwa stimulus itu ada. Yang ketiga disebut dengan “False Alarm”; stimulus itu pada dasarnya tidak ada, tapi si individu malah menyimpulkan sebaliknya, stimulus itu ada. Keempat, yang disebut “Correct Rejection”; stimulus itu tidak ada, dan si individu secara benar menyimpulkan bahwa stimulus itu memang tidak ada.
Seperti yang anda duga, entrepreneur yang sukses akan cenderung punya persepsi “hit” dan “correct rejection”. Pengalaman-pengalaman keputusannya akan relatif lebih banyak dihiasi oleh benar ketika menganggap ada peluang, dan tidak salah ketika melihat peluang itu memang tidak ada. Contoh-contohnya bisa seperti kejadian berikut. Orang tertentu, sukses kala memilih bisnis tertentu, yang dalam perkembangannya ternyata memang meningkat pasarnya. Atau, kalau memilih mitra baru, ternyata kemitraannya memang saling bersinergi dan bisnis pun berkembang. Sebaliknya, si entrepreneur sukses juga secara tepat menunda penjualan barangnya di harga tertentu karena ia menganggap menjual beberapa bulan ke depan lebih menguntungkan. Begitupula misalnya, ketika ia menolak tawaran dana untuk investasi peralatan, tambahan investasi itu hanya akan membenani biaya bulanan karena cicilannya tidak sebanding dengan tambahan pendapatan yang dihasilkan.
Ada beberapa faktor ikutan yang juga terkait dengan bagaimana sinyal peluang ini dipersepsikan oleh si entrepreneur. Salah satunya adalah pengalaman. Kalau orangnya sudah berpengalaman, maka tentu saja kriteria subjektifnya dalam memutuskan menjadi berbeda. Mereka yang sudah berpengalaman banyak, ketika ada sedikit sinyal saja, sudah cukup bagi dia untuk memutuskan. Dengan demikian, kriteria yang ditetapkannya sebelum bertindak tidak harus terlalu tinggi atau banyak. Sementara itu, orang yang kurang berpengalaman biasanya cenderung menetapkan kriteria yang rada banyak dan tinggi, untuk satu sinyal yang dilihatnya.
Kini pertanyaannya adalah, mungkinkah para manajer berperilaku seperti para entrepreneur itu? Tentu saja mungkin. Malah, ini menjadi satu penjelasan, mengapa para manajer dapat berperilaku seperti entrepreneur. Para manajer pun sehari-hari terlibat dengan urusan peluang. Manajer pemasaran berurusan dengan penciptaan dan peluncuran produk baru. Manajer SDM berurusan dengan peluang ketika bernegosiasi dengan konsultan provider pelatihan.
Organisasi, apalagi organisasi bisnis memang sangat tergantung pada peluang. Bahkan, tidak berlebihan bila disebutkan, dengan peluanglah organisasi bisa bertahan hidup dan kemudian berkembang. Memahami proses pemanfaatan peluang oleh entrepreneur seperti sinyal-sinyal peluang ini akan membantu manajer untuk meningkatkan kapasitas entrepreneurial nya.