
Peluang adalah salah satu bahasan penting dalam ilmu entrepreneurship. Bagaimana individu mengeksplor dan mengeksploitasi peluang menjadi kunci keberhasilan seorang entrepreneur, termasuk intrapreneur, individu yang berperilaku entrepreneurial di organisasi yang sudah mapan. Tidak heran rumusan entrepreneurship adalah studi tentang sumber peluang, serta proses penemuan, evaluasi dan eksploitasi dari peluang tersebut (Shane & Venkataraman,2000) termasuk yang sering dirujuk peneliti. Peluang yang dimaksud di sini – disebut dengan entrepreneurial opportunities (EO)-, agak berbeda dengan peluang dalam pemahaman kalangan awam. Seperti apa sesungguhnya EO? Dimana letak bedanya dengan peluang yang biasa kita kenal?
Masih menurut Shane & Venkataraman, Entrepreneurial opportunities (EO) adalah situasi, dimana barang, layanan, bahan baku, pasar dan cara mengatur yang baru dapat diperkenalkan melalui bentuk cara-cara yang baru, tujuan atau kombinasi cara dan tujuan yang baru pula. Hal-hal yang baru, atau yang sering kita kenal dengan istilah inovatif, sangat kental sekali dalam rumusan ini. Bedanya dengan peluang yang “biasa”, sang entrepreneur tidak harus memiliki terlebih dahulu sumberdaya yang diperlukan, atau hasil akhir yang diharapkan dari peluang tadi. Kedua hal itu (sumberdaya dan hasil akhir), bisa diciptakan oleh sang si individu sembari mengeksplor dan mengeksploitasi peluang tadi. Saat peluang tadi digagas, ditawarkan dan diterapkan, si entrepreneur sekaligus mengupayakan sumberdaya yang diperlukan. Disinilah letak nilai tambah (value added) yang tinggi dari satu inisiatif yang dikerjakan oleh si entrepreneur. Karena asumsi sumberdaya yang terbatas, seakan-akan hal ini tidak dilihat sebagai peluang bagi orang banyak.
Di sisi lain, ini juga yang menjelaskan bahwa pada peluang yang “biasa”, sumber daya dan tujuannya seringkali sudah ada. Bisa kita katakan “semua orang juga tahu”. Dengan demikian maka nilai tambahnyapun tidak seberapa. Kalau ini yang dilakukan, dengan segera orang mengatakan, “dimana hebatnya?” “dimana uniknya?”, atau “itu mah biasa”. Pendeknya, peluang peluang yang biasa, kalaupun menghasilkan “keuntungan”, maka keuntungannya tidak begitu besar, dibandingkan kalau EO yang berhasil dieksploitasi.
Manajer atau karyawan di organisasi yang sudah mapanpun bisa berpikir dan bertindak dengan berpatokan dengan peluang entrepreneurial ini. Atau, setidak-tidaknya turut mendukung bila koleganya (apakah itu dari sisi atasan, atau yang datang dari level bawah) menggagas satu inisiatif yang mengeplor dan mengeksploitasi EO. Dengan keyakinan dan keteguhannya, walaupun disaat peluang itu diidentifikasi sumberdayanya belum memadai, mereka bisa terus mengupayakannya. Misalnya dengan cara mencari dan meyakinkan sponsor atau backer. Network yang ada dirangkul. Pokoknya, yang ada dimaksimalkan, yang belum ada diciptakan. Bukan upaya sederhana, memang. Kemungkinan gagalpun tidak kecil. Tapi berharap untuk memperoleh benefit yang tinggi dari upaya seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan.
