Seperti juga konsep entrepreneurship, Corporate Entrepreneurship (CE) juga dirumuskan banyak orang secara beragam. Tapi pada intinya, CE merupakan proses atau aktivitas entrepreneurial yang dilakuan individu atau kelompok di sebuah organisasi. Untuk memahami apa yang disebut “entrepreneurial” di sini, bisa dengan membayangkan sebuah bisnis baru, kecil dan sedang berkembang.
Bisnis kecil, baru dan berkembang tentulah lahir dari peluang yang diidentifikasi si pengusaha (entrepreneur) dan memanfaatkannya melalui bisnisnya tadi. Dalam proses awal perkembangannya, si pengusaha ini gesit, cepat tanggap dengan berbagai persoalan terkait memanfaatkan peluang tadi. Ia fleksibel, kreatif, luwes dengan sumberdaya yang ada termasuk karyawan. Ia fokus pada pertumbuhan bisnisnya dan maju terus dengan risiko yang dihitungnya. Gagasan yang ada pada awal perkembangan bisnisnya, bisa saja diolah lagi, di modifikasi, atau bahkan ditinggalkan untuk diganti dengan yang lebih baik. Kalau ia berhasil (sebagian tentu saja bisa gagal), wujud upayanya secara komersial akan terlihat nyata pada keuntungan yang diperoleh.
Bila bisnis tadi membaik dan membesar ukurannya, maka sudah pasti organisasi perlu struktur yang sarat hirarki, perencanaan yang bisa membatasi, hal-hal yang tidak serupa lagi dengan waktu ukurannya kecil. Birokrasi yang tidak perlu tercipta, prosedur yang “bertele-tele” hadir dan para karyawan bisa tidak se “bebas” sebagaimana waktu perusahaan itu kecil.
CE menjelaskan serangkaian aktivitas, sikap dan tindakan yang lazim terjadi pada usaha kecil dan baru, tapi dilakukan di perusahaan besar dan mapan. Ini sebagai upaya mencoba merevitalisasi lagi “akar entrepreneurial” yang mereka miliki saat perusahaan di tahap-tahap awal perkembangannya. Untuk memahami lebih jauh batasan dan lingkup CE, penggolongan yang dilakuan oleh Thornberry (2006) sangat membantu. Menurut pakar CE dari Babson College ini, CE terdiri dari 4 tipe: Corporate venturing, Intrapreneuring, Organizational Transformation, dan Indusry rule breaking.
Penjelasan ringkas dari setiap tipe ini adalah sebagai berikut:
Corporate Venturing berhubungan dengan bagaimana memulai sebuah bisnis baru, yang memanfaatkan proses atau kompetensi perusahaan yang sedang berjalan. Sementara Intrapreneuring, merupakan upaya untuk menggunakan kerangka pikir dan perilaku entrepreneur yang digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan bisnis, dan membawa karakter ini ke dalam perusaahaan yang sedang berjalan. Sementara Corporate renewal berkaitan dengan upaya pengaturan atau kombinasi baru dari sumberdaya dan hasilnya adalah penciptaaan nilai eknomis yang berkelanjutan. Sementara dalam organizational transformation, yang dilakukan tidak hanya tranformasi perusahaan, tapi juga lingkungan bersaing dari industri menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Meskipun istilah dan fokusnya berbeda, masih menurut Thornbery (2006), ada beberapa elemen kesamaan diantara keempat istilah ini. Kesamaan itu adalah:
- Penciptaan sesuatu yang baru yang sebelumya tidak ada (bisnis, produk, layanan, sistem penyerahan, proposisi nilai).
- Hal-hal baru ini menuntut tambahan sumber daya dan atau perubahan dalam pola pemanfaatan sumberdaya dalam organisasi.
- Pembelajaran harus terjadi baik dalam penciptaannya maupun dalam implementasinya sehingga pada akhirnya ini akan mengembangkan kompetensi dan kapabilitas organisasi yang baru.
Sekarang kita bicarakan soal individunya. Karyawan yang dituntut dalam CE, tentulah karyawan (manajer puncak, manajer, staf) yang bertindak layaknya seorang entreprenuer yang berhasil. Mereka menjadi orang yang berkarakter kuat, memiliki determinasi untuk meraih peluang yang menjadi harapannya. Dengan memiliki karyawan2 seperti ini, walaupun tidak semua, akan dapat membawa gairah baru pada organisasi. Seperti layaknya enterepreneur mereka akan memiliki passion untuk bertanggung jawab terhadap gagasannya dan bersikukuh mengenyahkan (removing) berbagai kendala yang menghalangnya. Mereka berciri inovatif, mencari peluang yang tidak dilihat atau yang dianggap sulit diraih oleh orang lain. Para karyawan ini pun biasanya akan lebih memperhatikan hasil, ketimbang sibuk dengan proses untuk menghasilkan tersebut.
No comments:
Post a Comment