Wednesday, January 6, 2010

Perilaku Inovatif & Self-leadership skill

Banyak perusahaan yang mendambakan para karyawannya berperilaku inovatif. Selain sangat tergantung kondisi yang diciptakan organisasi sebagai faktor luar, perilaku ini juga sangat tergantung pada individu karyawan. Dambaan tadi hanya akan menjadi mimpi di siang bolong kalau si individu karyawannya sendiri tidak berupaya membangun kapabilitas inovasi nya. Salah satu elemen penting yang bisa menciptakan perilaku tersebut adalah dengan menerapkan self-leadership skill. Seperti apa yang dimaksud dengan kecakapan self-leadership (kepemimpinan mandiri) ini?
Self-leadership skill adalah keseluruhan proses dimana seorang individu mengarahkan, memotivasi dan memimpin dirinya sendiri demi perilaku atau sebuah hasil yang diharapkan. Berbagai konsep pengelolaan diri seperti self-navigation, self-management, atau self-control merupakan landasan bagi kecakapan ini. Kecakapan ini terkait dengan tiga aspek strategi; berfokus pada perilaku, natural reward serta pola pikir yang konstruktif (Carmeli, Weisberg, 2006).
Strategi yang pertama, berfokus pada perilaku terkait dengan kesadaran diri dan pengelolaan perilaku seperti self-observation, self-goal setting, self-motivation, positive self-feedback/reward dan self-coaching. Strategi-strategi penting ini memungkinkan individu untuk mengidentifikasi perilaku yang diperlukan, yang harus diubah, ditingatkan atau mungkin dihentikan. Dalam hal goal-setting, individu yang mandiri umumnya tidak puas hanya dengan target yang alakadarnya, melainkan mereka menginginkan sasaran yang menantang. Tentang motivasi, hal yang serupa juga terjadi. Mereka umumnya termotivasi sendiri, apalagi dengan cara memandang positif dirinya dan hasil-hasil kerjanya. Kesalahan-kesalahan selalu dianggap sebagai peluang belajar dan dikoreksi sendiri, sehingga di masa yang akan datang kesalahan serupa tidak terulangi. Ciri kemandirian sangat kental dalam strategi ini, sehingga nyaris untuk hal-hal penting di atas, individu dengan kecakapan self-leadership tidak membutuhkan terlalu banyak dari atasan atau koleganya.
Sementara itu, strategi kedua, natural reward, berkaitan dengan pengalaman positif yang terkait dengan pekerjaan dan proses pencapaiannya. Ketika individu melihat bahwa pekerjaan itu sesuatu yang bernilai, pantas dikerjakan dan memotivasi dirinya, mengerjakannya dilihat sebagai sebuah ganjaran tersendiri. Lebih jauh, ia melihat pekerjaan yang dilakukannya sebagai sesuatu yang menyenangkan, enjoyable dan karena justru ia merasa hal tersebut menambah kapabilitasnya, kompetensi, control diri yang bisa meningkatkan kinerjanya. Pernah mendengar orang bekerja seperti menjalankan hobbynya? Kira-kira seperti itulah. Terlihat betul antusiasnya orang-orang yang bekerja seperti ini.
Sedangkan strategi yang ketiga, berhubungan dengan pola pemikiran yang konstruktif. Meskipun biasanya yang namanya pola itu berulang, seseorang bisa saja mengadaptasi pola pikirnya secara konstruktif atau destruktif. Ini dapat mempengaruhi kondisi emosi dan perilaku seseorang. Misalnya, seseorang bisa saja mengubah pola pikir untuk fokus pada potensi peluang, meskipun sedang menghadapi kesulitan, ketimbang berpikir melulu tentang kendala yang dihadapi. Orang tadi malah menggunakan pikiran yang optimistic dalam menciptakan peluang tersebut, sehingga mereka berpotensi mengatasi kesulitan tadi. Jadi, bukan malah menjadi pesimistik yang berpikir bahwa kendala dan halangan tadi akan bertahan lama dan merusak serta menciptakan konflik. Yang terakhir ini sering disebut dengan istilah pemikiran yang disfungsional. Konsep terkait, seperti self-talk, atau mental imaginary bisa dikatakan termasuk strategi ketiga ini. Kita member penekanan pada diri kita dan membayangkan satu pengalaman atau perilaku yang diharapkan yang kira-kira akan terjadi. Kedua hal ini akan memperkuat keyakinan dan kemampuan seseorang serta meningkatkan kinerjanya.
Nah, sekarang, dimana hubungannya kecakapan self-leadership dan perilaku yang inovatif?
Perilaku inovatif sarat dengan berbagai tantangan dan proses menjalankannya tidak mudah. Di tahap awal, individu perlu mengenali masalah dan hadir dengan gagasan dan solusi, baik itu yang baru atau yang berupa adopsi. Kemudian, individu mencari cara untuk mempromosikan gagasannya ini dan membangun legitimasi dan support dari dua belah pihak-atasan, kolega lintas fungsi, atau bawahan. Masih belum selesai, di tahap akhir, individu biasanya merealisasikan gagasanya atau solusinya dengan menghasilkan model atau prototype inovasi yang bisa dialami, diterapkan dan digunakan dalam kelompok, atau organisasi secara keseluruhan. Dirangkaian tahap ini tentu ada saja kendala yang menghadang. Meskipun pada dasarnya seringkali berorientasi tim, kegigihan dan determinasi individu jelas merupakan faktor yang mendasar. Disinilah hubungannya dengan kecakapan self-leadership terlihat nyata. Ketiga strategi yang dibahas di atas memainkan perannya dalam berbagai situasi di tahapan-tahapan inovasi di atas. Tidak heran, cukup banyak penelitian yang mengkonfirmasi hubungan positif antara perilaku inovatif dan kecakapan self-leadership ini.
Jadi, bila anda merasa perlu menjadi inovatif, tidak perlu menunggu difasilitasi atasan atau pihak lain di organisasi. Segera pastikan kecakapan self-leadership menjadi perangkat yang melengkapi diri anda.

3 comments:

  1. kalau boleh tahu pak, apa ada sumber2 terkait nya teori-teori self leadership dan cara meningkatkannya ya? thanks

    ReplyDelete
  2. sebelumnya terima kasih artikel anda diatas berguna sekali untuk tugas saya tentang self leadership.

    ReplyDelete
  3. You got a very good website, Gladiola I discovered it through yahoo. https://e-book.business/the-intelligent-investor/

    ReplyDelete